Integrating Local Customary Values in Social Welfare Provision: Narratives from Moluccas Island
Abstract
This study examines the role of Indonesian customary values in shaping localized welfare provision models, using Negeri Morella, Ambon, as a case study. As Indonesia transitions toward a more universal welfare state, the integration of indigenous systems offers insights into sustainable and inclusive policy frameworks. The research investigates how local traditions—rooted in environmental stewardship, communal economic practices, and social security mechanisms—contribute to welfare delivery amidst modernization. By analyzing Negeri Morella’s distinct socio-cultural context, the article highlights how customary values foster social cohesion and community resilience, particularly in multicultural settings. Findings reveal that localized welfare models operate through a “contextual basis”, where traditional governance and collective responsibility complement state-led initiatives. Customary systems emphasize resource-sharing, adaptive livelihood strategies, and kinship-based support, aligning with broader goals of environmental sustainability and equitable development. However, challenges persist in harmonizing these practices with national welfare policies. The study underscores the potential of hybrid approaches that blend indigenous wisdom with formal systems to enhance welfare accessibility and cultural relevance. Ultimately, this research contributes to global discourses on decentralized welfare by demonstrating how local values can inform resilient, context-sensitive provision models. It advocates for policy frameworks that recognize customary institutions as partners in achieving inclusive social protection, particularly in diverse societies like Indonesia.
[Studi ini mengkaji peran nilai-nilai adat di Indonesia dalam membentuk model penyediaan kesejahteraan yang terlokalisasi dengan menjadikan Negeri Morella, Ambon, sebagai studi kasus. Seiring dengan proses transisi Indonesia menuju negara kesejahteraan yang lebih universal, integrasi sistem-sistem lokal berbasis kearifan adat memberikan wawasan penting bagi pengembangan kerangka kebijakan yang berkelanjutan dan inklusif. Penelitian ini menganalisis bagaimana tradisi lokal—yang berakar pada pengelolaan lingkungan, praktik ekonomi komunal, serta mekanisme jaminan sosial berbasis komunitas—berkontribusi terhadap penyelenggaraan kesejahteraan di tengah dinamika modernisasi. Melalui analisis terhadap konteks sosial-budaya Negeri Morella yang khas, artikel ini menunjukkan bahwa nilai-nilai adat berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan ketahanan masyarakat, khususnya dalam lingkungan yang multikultural. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa model kesejahteraan lokal beroperasi melalui suatu “basis kontekstual”, di mana tata kelola adat dan tanggung jawab kolektif melengkapi inisiatif kesejahteraan yang dipimpin oleh negara. Sistem adat menekankan praktik berbagi sumber daya, strategi penghidupan yang adaptif, serta dukungan berbasis kekerabatan yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan. Namun demikian, tantangan tetap muncul dalam upaya mengharmoniskan praktik-praktik tersebut dengan kebijakan kesejahteraan nasional. Penelitian ini menegaskan potensi pendekatan hibrida yang memadukan kearifan lokal dengan sistem formal guna meningkatkan aksesibilitas dan relevansi kultural dalam penyediaan kesejahteraan. Secara keseluruhan, studi ini berkontribusi pada wacana global mengenai desentralisasi kesejahteraan dengan menunjukkan bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi landasan bagi model penyediaan kesejahteraan yang tangguh dan kontekstual, serta mendorong kerangka kebijakan yang mengakui institusi adat sebagai mitra strategis dalam mewujudkan perlindungan sosial yang inklusif, khususnya dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia.]
Keywords
Copyright
Copyright Holder: Ahmad Izudin
Copyright Year: 2026
License: Creative Commons Attribution 4.0 International License